Bismillaahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman yang artinya :

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS.

A. TAFSIR AYAT

(Maka syaitan menggelincirkan Adam dan Hawa) yaitu Iblis menyuruh mereka berdua pergi. Dalam satu bacaan lain Faazallahumaa” artinya menyingkirkan mereka berdua. (darinya) artinya dari surga dengan cara, Iblis berkata kepada mereka berdua ‘Apakah aku akan tunjukkan kalian berdua kepada pohon kekekalan’, dan Iblis bersumpah dengan nama Allah bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang memberi nasihat. Lantas keduanya memakannya. (maka dia berdua dikeluarkan dari apa yang dulu mereka dapat) berupa kenikmatan (dan Kami berfirman ‘Turunlah’) ke bumi. Artinya kalian berdua bersama apa yang kalian liputi dari keturunan kalian (sebagian kalian) sebagian keturunan (menjadi musuh bagi sebagian yang lain) dari sebagian kalian mendholimi sebagian yang lain (bagi kalian tempat menetap di bumi) tempat menetap (dan kesenangan) yaitu apa yang kalian buat bersenang-senang berupa tumbuh-tumbuhannya (sampai suatu saat) artinya waktu habisnya ajal kalian.

B. KANDUNGAN AYAT

Diantara sifat-sifat yang wajib bagi para nabi dan rasul adalah bahwa mereka terjaga dari perbuatan dosa (maksum) sama seperti malaikat, bahkan para nabi dan rasul lebih unggul dari pada malaikat. Syekh Ahmad Al Marzuqi dalam kitab ‘Aqidatul Awwam mengatakan :

“Ishmaatuhum kasaairil malaaikah # Waajibatun wafaadlolu malaaikah”

‘Terjaganya mereka para nabi (dari perbuatan dosa) seperti seluruh malaikat, adalah wajib bahkan mereka melebihi para malaikat’

Barang siapa yang menyatakan bahwa para nabi dan rasul juga pernah berbuat dosa karena mereka manusia, maka orang tersebut akan masuk para perangkap kemurtadan. Walaupun ada beberapa rasul yang mungkin bisa dianggap telah berbuat dosa, seperti nabi Adam, nabi Nuh, nabi Ibrahim, dan lainnya. Tapi anggapan itu adalah salah dan harus dibuang dari pemikiran kita. Na’udzubillah min dzalik.

Ayat di atas menunjukkan secara tekstual kepada kita bahwa syaitan berhasil membujuk nabi Adam untuk memakan buah ‘khuldi’ yang dilarang Allah. Sehingga nabi Adam diturunkan oleh Allah dari surga. Benarkah demikian ? Bukankah nabi itu maksum ? Itulah kia-kira pertanyaan yang lansung timbul pada diri setiap orang Islam jika membaca ayat tersebut.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan di dalam menyikapi hal ini, yaitu :

  1. Di dalam tafsir Ash Showi disebutkan bahwa pelanggaran yang dilakukan nabi Adam tidaklah seperti pelanggaran-pelanggaran pada umumnya, tetapi termasuk bab : “Hasanaatul Abroor sayyiaatul muqorrobiin” (kebaikan orang-orang yang baik adalah kejelekan orang-orang yang dekat dengan Allah). Dan yang benar adalah bahwa hal itu termasuk rahasia kekuasaan Allah. Hal itu memang secara dhohir dilarang, namun secara bathin tidak. Sebab mulai dari sebelum penciptaan dimana Allah berfirman kepada malaikat tentang iradahNya sampai terjadinya hal itu (nabi Adam memakan dari pohon kekekalan) adalah bersifat paksaan dari Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terjadi bahwa kemaslahatan tersusun dari terjadinya makan tersebut. Dinamakan pelanggaran sebab melihat kepada larangan secara dhohir, namun pada hakikatnya tidak terjadi pelanggaran. Ibnu Al Arabi berkata : ‘Andaikata aku berada pada kedudukan nabi Adam pasti aku akan memakan pohon itu dengan sempurna, karena terdapat kebaikan yang besar yang tersusun dari memakannya’.
  2. Dalam ayat 115 surat Thaha Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sungguh Kami telah mengamanatkan kepada Adam (agar tidak mendekati pohon) sebelumnya, lantas dia (Adam) lupa. Dan Kami tidak mendapati pada diri Adam keinginan (menekatinya bahkan memakannya). (QS. Thaha : 115) Pada ayat tersebut Allah dengan tegas menyatakan bahwa sebenarnya sebelum nabi Adam memakan pohon itu, beliau dilupakan oleh Allah. Sehingga beliau memakan pohon itu dalam keadaan lupa. Dan menurut hukum Allah bahwa orang yang melakukan sesuatu dalam keadaan lupa, perbuatannya tidak akan ditulis, artinya tidak ada hukum baginya. Begitu juga apa yang terjadi pada nabi Adam. Bahkan Allah juga memuji beliau bahwa pada diri nabi Adam tidak ada keinginan untuk melakukan hal terebut.
  3. Hikmah dari kejadian itu adalah adanya (terciptanya) manusia seluruhnya, sebab nabi Adam adalah menusia pertama dan manusia selanjutnya adalah keturunan nabi Adam. Andaikata nabi Adam tidak turun dari surga pastilah kita semua tidak ada, dan kehidupan manusia juga tidak akan terjadi.

C. KESIMPULAN

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa apa yang dilakukan nabi Adam bukan suatu pelanggaran, sebab beliau terjaga dari dosa. Dan hal itu merupakan runtutan yang telah disusun Allah.

———- Wallahu A’lam. ———–

BAHAN PUSTAKA :

  • Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin As Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al Mahalli
  • Tafsir Ash Showi, Imam Ahmad Ash Showi
  • Shofwah At Tafasir, Asy Syekh Ali Ash Shobuni
  • Jalaul Afham, Al Ustadz Ihya’ Ulumuddin