Malam Jum’at seperti biasanya ba’da maghrib para santri dan asatidz mengaji kitab Mukhtasor Ihya’ Ulumudin ke Kiai. Materi pada malam itu tentang “Pengaruh mendengarkan (suara) terhadap hati”. Sebelum Kiai memberikan penjelasan dan komentar, terlebih dahulu asatidz membaca materinya secara bergantian. Tertulis dalam kitab itu bahwa mendengarkan suara mempunyai pengaruh yang kuat dan aneh terhadap hati. Dengan mendengar, seseorang kadang kala bersedih, bergembira, menangis, dan kadang tertawa. Dan pada akhirnya menyebabkan gerakan-gerakan yang aneh dan menakjubkan pada anggota tubuh. Dikatakan aneh karena pengaruh mendengar itu bukan disebabkan karena memahami arti apa yang didengar. Bahkan menurut Imam Ghazali, pengaruh mendengar itu juga terjadi sekalipun tidak dapat memahami. Hal ini dapat disaksikan pada hewan yang tidak berakal dan juga bayi yang belum bisa bicara dan memahami.

Setelah materi tersampaikan, Kiai menambahkan penjelasan, lalu sedikit mengomentari tentang kejeniusan Imam Ghazali, Beliau berkata : “Imam Ghazali itu luar biasa. Beliau dengan keilmuan yang dimiliki dapat melakukan penelitian mengenai pengaruh mendengar ini dengan detailnya. Beliau hanya berpedoman kepada Al Quran dan As Sunnah. Padahal pada zaman beliau teknologi belum secanggih seperti sekarang. Berbeda dengan zaman sekarang, penelitian yang ada banyak dilakukan dengan didasarkan pada kemajuan teknologi saja tanpa merujuk pada Al Quran dan As Sunah”.

Di saat komentar itu meluncur dari Kiai, saya langsung teringat pada satu buletin yang saya baca. Ya..sore hari saya menemukan buletin KHAZANAH SANTRI terbitan PP. Putra Al Islah Langgar Genteng Singosari di kamar guru. Judulnya “Kritisisme; Belajar dari Filosof”. Waktu saya melihat penulisnya, saya sepertinya mengenal nama tersebut. Lalu saya membaca sampai selesai, dan saya lihat keterangan di akhir tulisan, ternyata betul dugaan saya. Di sana tertulis bahwa penulisnya adalah “Pegiat LAKPESDAM dan Ghazalian Center sekaligus alumni dari PIQ serta MA Almaarif Singosari Malang, sekarang penulis tercatat sebagai penerima beasiswa Al Azhar Cairo Mesir”. Tak terbendung lisan saya terucap kalimat Astaghfirullah…..Timbul pertanyaan, benarkah itu semua? Penulisnya? Isinya? Semoga salah dugaannya saya.

Inti dari tulisan itu adalah bahwa doktrin agama harus dikritisi. Tidak statis pada satu masa, misalnya ulama-ulama terdahulu. Kita bebas berpendapat tanpa takut akan hegemoni ideologi apapun termasuk agama, dan sekalipun bertentangan dengan pendapat-pendapat ulama-ulama terdahulu. Karena belum tentu mereka benar. Penulis mencontohkan para filosof Islam yang dia anggap sebagai pendobrak pemikiran Islam, seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Muhammad Abduh, dll. Dia tidak menyebutkan Al Ghazali. Bahkan dari kebahasaan yang dia pakai menunjukkan ketidaksetujuan terhadap Al Ghazali. Dia mengomentari dan menyikapi Imam Ghazali menggunakan bahasa yang “tidak sopan” berbanding terbalik ketika dia menyikapi yang lainnya. Sekalipun hanya sebatas kebahasaan, namun dari bahasa itu bisa diketahui alur pemikirannya. Contohnya, dia menulis: Al Ghazali sebagai agamawan-filosof-sufistik cukup “kebakaran jenggot” dengan “ulah” kedua filosof di atas. (Yang dimaksud kedua filosof, yaitu Al Farabi dan Ibnu Sina). Atau pada kalimat Tak terima dengan ulah “kurang ajar” Al Ghazali terhadap filosof, Ibnu Rusydi pun mengkounter Al Ghazali. Bandingkan dengan kalimat lainnya, misalnya yang berbunyi Di abad-19 muncul pemikir brilian Mesir, Muhammad Abduh.

Saya menilai –maaf, ini menurut batas kedangkalan keilmuan saya– bahwa isi tersebut tidak menunjukkan akan akhlak seorang santri yang motabene mengedepankan rasa ta’dhim, sam’an wa tho’atan, dan i’tiqod. Coba kita lihat bahasa “kebakaran jenggot” dan “kurang ajar”! Begitukah akhlak seorang santri? Kenapa cara mengomentari Al Ghazali berbeda antara Kiai dan muridnya (walaupun sebatas kebahasaan)?

Saya sampai heran, apakah komentar Kiai tadi merupakan jawaban atas kegundahan saya setelah membaca buletin tersebut? Sebegitu kuatkah ta’alluq seorang Guru dengan muridnya (baca: santri)? Saya tidak menyebut alumni, karena bagi Kiai tidak ada namanya alumni, yang ada santri. Tapi mengapa sebagian kita ketika menjadi “alumni” berubah pemikirannya 180 derajat dibanding ketika menjadi “santri”. Padahal Kiai menganggap kita santri bukan alumni. Saya belum bisa mengambil kesimpulan. Saya takut salah. Tapia pa yang diutarakan Kiai sudah cukup menjadi prinsip bagi saya dalam menyikapi ulama. Ya…Wallahu a’lam bis showaab.

ELMA (Singosari, 15 Agustus 2009)