Allah Ta’ala berfirman (yang artinya :

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’am : 165)

Ayat di atas telah jelas menerangkan bahwa diantara bentuk ujian Allah terhadap hambaNya perbedaan status sosial. Menurut Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin Al Suyuthi dalam tafsirnya “Al Jalalain” bahwa status sosial manusia bisa dibedakan dengan harta kekayaan dan kekuasaan. Karena dengan keduanya, akan tampak pengaruhnya dalam masyarakat.

Dengan harta, seseorang akan diuji keimanannya dalam dua hal, dari mana dia mendapatkan hartanya dan kemana dia belanjakan. Sedang dengan kekuasaan, seseorang akan diuji keimanannya di dalam melaksanakan kekuasaannya. Dibawa kemanakah bawahannya (baca : rakyatnya). Dengan demikian, akan tampak siapa yang termasuk “Al Muthi” (orang yang taat) dan siapa yang termasuk “Al ‘Ashi” (orang yang melanggar).

Berbicara tentang kekuasaan, lingkup terkecil adalah kekuasaan untuk memimpin diri kita sendiri. Rakyatnya adalah raga kita; tangan, mulut, kaki, mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Akan kita bawa kemana semua itu. Tangan kita, akankah kita bawa untuk mencuri ataukah bersedekah. Mulut kita, akankah kita bawa untuk mencaci, menghujat ataukah berdzikir. Di sinilah letak ujian bagi seorang penguasa/pemimpin. Jika kita mampu membawa kepada keta’atan, maka kita termasuk “Al Muthi’”. Namun sebaliknya, jika kita bawa kepada kema’siatan, maka kita tercatat sebagai “Al A’shi”.

Rasulullah SAW bersabda “Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan diminta pertanggungjawabannya dari yang dipimpin (rakyat)”. Jelaslah, bahwa setiap manusia adalah pemimpin. Dan seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi, menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu berkah, melainkan suatu ujian. Kesenangan yang didapat ketika menjadi pemimpin tidaklah sebanding dengan tanggung jawab yang diemban. Tanggung jawab kepada rakyatnya, lebih-lebih kepada Allah SWT kelak di akhirat.

Coba kita lihat bagaimana sikap para sahabat-sahabat Nabi SAW ketika mereka ditunjuk untuk dijadikan pemimpin. Tidak ada dari mereka yang mengajukan diri untuk memimpin. Tidak ada dari mereka yang menyatakan “Akulah yang pantas memimpin”. Mengapa demikian? Karena mereka tahu begitu beratnya tanggung jawab seorang pemimpin.

Kita renungkan sejenak bagaimana sikap Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq RA ketika beliau hendak diangkat sebagai khalifah. Beliau berkata : “Wahai manusia! Jika kalian mengira bahwa Aku mengambil kepemimpinan kalian ini karena aku mengharapkannya atau ingin menguasai kalian dan orang-orang Islam, itu salah besar. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaannya, tidaklah Aku mengambilnya karena menginginkannya dan tidak pula karena ingin menguasai kalian dan orang-orang Islam, Aku sangat tidak menginginkannya siang malam, Aku tidak memintanya kepada Allah secara terang-terangan atau diam-diam. Demi sungguh Aku terbebani suatu perkara yang besar, tidak ada kemampuan bagiku kecuali dengan pertolongan Allah…” (Hayatus Shohabah : III/67)

Lalu bagaimana dengan zaman sekarang? Hasya wa kalla….amat jauh perbedaannya. Manusia sekarang penuh ambisi dan kecongkaan. Mereka dengan percayanya mengajukan diri untuk menjadi pemimpin. Bahkan diantara mereka dalam mencapai ambisi, ada yang menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan agama. Mereka tidak lagi memikirkan betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Meraka tidak lagi sadar bahwa kepemimpinan adalah ujian keimanannya. Yang terpampang di benak mereka hanyalah kesenangan dunia. Mereka beranggapan dengan memimpin, segalanya bisa diatur. Mana yang menguntungkan untuk dirinya, mereka lakukan. Dan mana yang merugikan untuk dirinya, mereka buang. Tidak terpikirkan oleh mereka nasib rakyatnya.

(Singosari, 19 Januari 2010, 05:16)