Seri 1 : Pencapaian Ilmu

(Ringkasan pengajian Mukhtasor Ihya oleh : KHM. Basori Alwi, pengasuh PIQ Malang)

Hati adalah inti dalam raga dan jiwa manusia. Dia bagaikan raja. Pengendali, pengatur, dan penghimpun segala hal yang diperbuat oleh raga dan jiwa. Diantaranya, hati sebagai penghimpun ilmu. Pencapaian ilmu yang diperoleh oleh hati ada dua macam :

Pertama, Ilmu yang dimiliki ulama. Ilmu yang semacam ini didapat dengan pendahuluan. Yaitu pertimbangan dan analisa serta pengkajian dalil. Sehingga didapatlah hasil akhir dan kesimpulan. Kedua, Ilmu yang dimiliki para nabi dan rasul. Ilmu ini dengan cara kasyaf. Yaitu terbukanya hijab antara dia dengan Allah. Kasyaf ini diberikan dengan irodah (kehendak) Allah. Contohnya adalah apa yang terjadi pada nabi Ibrahim yang Allah ceritakan pada surat Al An’am ayat 75 :

WAKADZAALIKA NURII IBRAAHIIMA MALAKUUTAS SAMAAWAATI WAL ARDLI WALIYAKUUNA MINAL MUUQINIINA

“dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin.” (QS. Al An’am : 75)

Ilmu semacam ini, yang didapat  nabi Ibrahim, tanpa perantara dalil dan pendahuluan. Beliau langsung dituntun oleh Allah untuk mengetahui tanda-tanda keagungannNya. Ilmu macam inilah yang Allah maksud dalam firmannya :

MAA YAFTAHILLAAHU LINNAASI MIN RAHMATIN FALAA MUMSIKA LAHAA

“apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya.” (QS. Fathir : 2)

Pada ayat di atas lafadz “rahmatin” menurut imam Ghazali adalah ilmu kasyaf. Ilmu ini diberikan ke dalam hati yang menghadap (kepada Allah) untuk menerimanya. Yaitu hati yang sudah disucikan dari sifat-sifat yang dapat mencegah kemampuan untuk menerimanya. Allah berfirman :

QOD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA, WAQOD KHOOBA MAN DASSAAHAA

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams : 9-10)

Lalu bagaimana cara kita mendidik dan mensucikan hati dari sifat-sifat tercela tersebut? Cara yang ampuh adalah sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW baik melalui Alquran ataupun Alhadits. Diantaranya apa yang disabdakan Rasul SAW dalam haditsnya : “Sesungguhnya hati menjadi karat sebagaimana mengkaratnya besi. Rasul ditanya, Apa obatnya? Rasul menjawab, obatnya adalah mengingat kematian dan membaca Alquran.” (Alhadits). (elma)