Seri 2 : Sifat (pada) Asal Penciptaan Manusia

(Ringkasan pengajian Mukhtasor Ihya oleh : KHM. Basori Alwi, pengasuh PIQ Malang)

Manusia pada keaslian titahnya (penciptaannya) mempunyai empat sifat buruk. Keempat sifat itu adalah sifat binatang buas, sifat hewan, sifat setan, dan sifat ketuhanan (sifat yang seharusnya hanya pantas dimiliki Allah, seperti sifat mengetahui segala hal). Maka pada saat amarah telah menguasai manusia, dia akan menjalankan perbuatan-perbuatan binatang buas, berupa permusuhan, kebencian, menyerang manusia dengan pukulan dan ejekan. Begitu juga ketika manusia dikuasai syahwatnya, dia akan melakukan perbuatan-perbuatan hewan, berupa rakus, tamak, dan nafsu (sex). Sebagai contoh seekor singa. Dia ingin berkuasa atas semua binatang. Dengan kebuasannya, dia membunuh binatang lainnya. Manusia juga demikian, ketika amarah yang telah menguasainya, dia dengan mudahnya membunuh, menganiaya dan menyakiti orang lain. Contoh lain, ayam jantan, ketika bertemu dengan ayam betina. Dia tidak pikir panjang, apakah si betina ini induknya atau tidak, dia langsung menggaulinya. Manusia juga demikian. Jika syahwatnya telah menguasai jiwanya, dia buta akan batas-batas kemanusiaan. Terkumpulnya dua sifat ini (sifat binatang buas dan hewan) serta munculnya rasa senang pada (berbuat) kejelekan, sifat memaksa, menang sendiri dan tipu daya, maka ketika itulah manusia telah dikalahkan oleh sifat setan.

Pada hakekatnya, ada satu sifat lagi dalam diri manusia, yaitu sifat ketuhanan. Allah berfirman :

WAYAS ALUUNAKA ‘ANIR RUUH, QULIRRUUHU MIN AMRI ROBBII…

“Dan mereka (orang-orang Yahudi) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, bahwa ruh adalah urusan tuhanku (Allah)….” (Al Isro’ : 85)

Dari ayat ini dipahami bahwa manusia mengakui adanya sifat ketuhanan pada dirinya, yaitu menguasai dengan paksa, ingin tinggi (derajatnya), menyendiri dengan kekuasaan, dan tidak mau tunduk kepada selain Allah. Sifat-sifat ketuhanan ini seharusnya hanya pantas dimiliki Allah, bukan makhluknya (baca : manusia). Oleh karena itu, ketahuilah bahwa menyibukkan diri dengan ibadah dan terus menerus dengan ibadah adalah cara untuk mendapatkan tujuan, berupa mengalahkan apa yang tidak pantas bagi jiwanya, yaitu membersihkan dari empat sifat di atas dan menenteramkan hati. Bagaimana caranya? Allah telah memberi cara yang begitu sempurna. Lihatlah apa yang Allah firmankan dalam Alquran :

ALAA BIDZIKRILLAHI TATHMAINNUL QULUUBU

“…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar Ra’d : 28).

Wallahua’lam bissowaab….(elma)