Seri 4 : Dalil Kebenaran Metode Para Sufi

(Ringkasan pengajian Mukhtasor Ihya oleh : KHM. Basori Alwi, pengasuh PIQ Malang)

 

Ketahuilah bahwa metode yang dilakukan para sufi di dalam mendapatkan ma’rifat (mengetahui hal apapun) tanpa belajar, adalah benar adanya. Dimana mereka mendapatkannya dengan berusaha mensucikan hati dengan selalu ibadah. Sebab dengan ini, Allah akan memberi ilham. Sehingga apa yang mereka ketahui atau ucapkan adalah langsung dituntun Allah (ilham). Tanpa belajar!. Sebagai contoh : Mbah Hamid (KH. Abdul Hamid Pasuruan, red.). Dulu waktu saya sowan ke beliau untuk meminta doa pembangunan pondok ini, beliau tahu duluan. Padahal belum saya utarakan maksud kedatangan saya. Jadi, saat saya sampai di depan rumah beliau, kiai Hamid ini sudah menunggu di bawah pohon mangga. Lalu saya berucap “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikum salam ya syekh” jawab kiai Hamid. Saya kaget. Tidak seperti biasanya beliau memanggil demikian. Biasanya memanggil saya dengan ‘ustadz’. Lebih kaget lagi saat kiai Hamid bertanya “berapa hektar pondoknya?”. “Cuma tiga ratus meter persegi” jawab saya. Lalu beliau bilang “ya sudah, mari kita berdoa, “…lin naf’i wal qobul wal jamal wal kamal..alfatihah..”.

Cerita di atas sebagai contoh bagaimana seorang yang hatinya sudah bersih (dalam hal ini kiai Hamid) dapat mengetahui hal yang belum diberitahukan padanya. Kita husnudzon bahwa apa yang diketahui kiai Hamid adalah ilham dari Allah. Karena kewalian kia Hamid sudah masyhur di kalangan masyarakat.

Imam Abu Darda’ berkata : “Orang Islam melihat dari belakang tabir yang tipis. Demi Allah, sesungguhnya kebenaran itu mempunyai suatu perkataan yang dimasukkan Allah ke dalam hati orang Islam, dan Allah jalankan pada lisan mereka”.

Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin. Maka sesungguhnya dia melihat dengan nur (yang diberi) Allah.” (HR. Turmudzi)

Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman, firasatnya benar. Sebab dia berfirasat dengan cahaya yang diberi Allah. Dalam hadits yang lain, Rasul SAW bersabda : “Sesungguhnya dari umatku ada yang diberi ilham dan ada yang diajak bicara (oleh malaikat selain nabi), dan Umar termasuk dari mereka.” (HR. Bukhori). Artinya sayyidina Umar merupakan orang yang menapak jalan sufi, sehingga beliau mampu tahu segala hal tanpa belajar dan menggali informasi. Melainkan dengan ilham langsung dari Allah. Inilah yang disebut dengan “muhaddats”, yaitu orang yang diberi ilham yang tersingkap (mendapatkan pengetahuan) dari dalam hati bukan dari hal-hal yang diraba/dirasa oleh panca indra. Perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud sufi di sini adalah mereka yang tetap berpegang kepada syariat. Karena kalau hanya berpegang pada tasawuf pasti banyak salahnya. Wallahu a’lam. (elma)