Seri 5 : Riyadhah Nafs

(Ringkasan pengajian Mukhtasor Ihya oleh : KHM. Basori Alwi, pengasuh PIQ Malang)

 

“Riyadhah Nafs” yang dalam makna bahasa Indonesia “melatih jiwa”. Jiwa ini memiliki kehinaan-kehinaan yang harus dibersihkan dan disucikan. Maka dengan hal itu (membersihkan jiwa), dia akan sampai kepada kebahagian abadi dan sampai juga ke sisi Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Kita telah pulang dari jihad terkecil menuju jihad terbesar”.

Ketahuilah bahwa hati mempunyai pintu yang bisa ditembus setan untuk menuju ke alam ghaib. Setan mempuyai bisikan (untuk menjerumuskan manusia). Pintu itu adalah sifat-sifat tercela. Maka seukuran seseorang menekan semua sifat-sifat tercela itu, maka sempitlah jalan-jalan setan atau tersumbat. Sebaliknya, jika dibiarkan, maka pintu-pintu itu meluas dan terbuka lebar. Kuncinya adalah kita sendiri. Artinya, jika kita sumbat pintu setan itu, maka hati kita menjadi tempat hikmah dan turunnya malaikat. Sebaliknya, kalau kita biarkan pintu setan itu, maka hati kita menjadi sarang setan. Oleh sebab itu diperlukan latihan jiwa kita dalam membersihkan dari sifa-sifat tercela dan diganti dengan sifat-sifat terpuji, yaitu akhlak mulia.

Kita harus mempunyai akhlak yang baik. Karena dengan akhlak yang baik, kita bisa dekat kepada Allah, senang kepada Allah, dan kita juga disenangi Allah. Mempunyai akhlak yang baik ada dua macam. Adakalanya sudah dari wataknya sejak kecil. Adakalanya pula dari proses belajar (mengaji) dan latihan. Misalnya, fulan bakhil. Lalu dia belajar tentang bakhil. Lalu dia berusaha tidak bakhil, dengan cara memberi-berikan uang. Pada awalnya berharap pujian dari orang (riya’). Hal ini tidak apa-apa untuk tahap awal. Kemudian belajar dan belajar lagi tentang riya’. Pada akhirnya, dia mengikis pujian-pujian sampai bersih, yang pada awalnya ia harapkan, sehingga dia dapat mencapai maqom ikhlas. Inilah contoh dari “riyadhah nafs” atau “pelatihan jiwa”.

Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan akhlak yang baik : “Sesungguhnya akhlak yang baik mencairkan kesalahan seperti matahari mencairkan es”. Abdullah bin Samuroh berkata : Ketika kita di sisi Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Tadi malam saya melihat keajaiban. Saya melihat seseorang dari umatku duduk berlutut. Diantara dia dan Allah terdapat penghalang (sehingga dia tidak bisa dekat dengan Allah). Maka kebaikan akhlaknya datang lantas mengantarkannya menuju ke hadapan Allah (sehingga bisa dekat dengan Allah”.

Akhlak yang baik ditentukan seukuran apa yang terhapus pada diri seseorang sifat-sifat tercela, maka akan tetaplah penggantinya berupa sifat-sifat terpuji. Rasulullah SAW bersabda : “Perbaguslah akhlak kalian”. Dari hadits ini telah jelas, Rasulullah SAW memberitahukan bahwa akhlak dapat menerima perubahan dan pengaruh di bawah kendali tindakan. Maka wajib bagi kita menundukkan sifat marah, sifat syahwat, sifat rakus dan semua sifat-sifat tercela lainnya. Jika kita telah melakukannya (menundukkan sifat tercela), tercapailah tujuan (akhlak yang baik). Hal ini harus dengan usaha yang sungguh-sungguh dan kesabaran atas apa yang kita benci agar menjadi suatu kebiasaan (akhlak yang baik). Ini sesuai dengan hadits “Kebaikan itu adalah kebiasaan”. Maka barang siapa yang pada asal penciptaannya bukan orang yang dermawan -misalnya-  maka dia harus membiasakan kedermawanan itu dengan memaksa dirinya. Demikian pula semua sifat tercela harus diobati dengan sifat kebalikannya, seperti bakhil diobati dengan dermawan. Maka pada akhirnya, terus menerus beribadah dan memerangi hawa nafsu akan memperbagus akhlak dan menjadikan rasa betah dengan Allah (artinya betah dengan sifat-sifat yang diridloi Allah). Rasulullah SAW bersabda : “Sembahlah Allah dalam kerelaan, Jika tidak bisa, maka di dalam kesabaran atas apa yang dibenci terdapat kebaikan yang banyak”. Wallau a’lam. (elma).