Dosa apa yang saya perbuat, sehingga saya harus mengalaminya dua kali dan nyaris tiga kali. Balik kucing!

Seperti biasanya, tiap Ahad saya punya agenda tetap “nyuci plus refresing” di rumah teman pondok yang lagi kosong. Terletak di Pendem Batu. Arah selatan dari pasar Karang Ploso Malang. Rumah itu hanya dipakai ketika keluarga teman saya berlibur ke Malang. Untuk tiap harinya, diserahkan ke teman-temannya, termasuk saya. Ada cerita yang menggelikan sekaligus menyebalkan.

Hari Ahad saya sudah agendakan mencuci plus refresing. Saya sengaja berangkat pagi-pagi. Jam 07.00 WIB saya sudah siap dengan dua tas rangsel besar. Satu berisi baju-baju kotor, satu lagi berisi laptop. Penuh semangat dan gairah untuk berangkat. Oh ya lupa, ada satu lagi bawaan saya. Yaitu nasi jatah ndalem. Saya masukkan kresek kecil untuk saya bawa. Pinginnya mau dibuatkan mie goreng plus telor.

Dengan semangat yang membara, saya berangkat dengan bawaan yang super berat. Apalagi kendaraan yang saya pakai “Sang Legenda”. Jadi harus serba hati-hati. Tepat jam 07.15 saya keluar dari ma’had. Diiringi ucapan “Bismillah”, saya starter motor. Wuss…!. Sayapun meluncur dari Singosari. Menyusuri jalan raya yang penuh dengan hingar bingar kendaraan. Maklum, hari libur. Biasanya dipadati wisatawan yang lagi berwisata di kota Malang dan Batu. Di tengah perjalan, saya terbayang akan masakan yang nantinya saya buat. Ada telor, ada mie. Emm..maknyus rasanya. Kadang juga pikirian ini melayang-layang sambil melirik ke mobil-mobil di kanan kiri. Enak banget ya mereka. Berliburnya benar-benar berlibur. Tidak seperti saya, berlibur cuma dengan cuci-cuci. Hehe..

Tidak terasa, saya sudah sampai di pintu gapura rumah yang saya tuju. Dari kejahuan, tampak sepeda motor yang parkir di rumah itu. Sesaat kemudian muncul seorang laki-laki dengan membawa sapu. Tampaknya dia mau membersihkan halaman depan rumah itu. Setelah saya amati dari kejahuan, saya tahu, ternyata dia adik dari temanku, sang pemilik rumah. Namanya Mundzir. Sayapun menghantikan motorku dan berbalik arah untuk pulang. “Kenapa tidak terus aja lil?” bisik hatiku. “Nggak enak. Soalnya saya tidak kenal” ujarku dalam perang batin. Saya beralasan karena memang saya tidak kenal dia. Saya cuma kenal teman saya itu aja.

Angan-angan yang sudah membumbung tinggi di pikiran saya buyar seketika. Dengan segenap sisa tenaga, saya kembali ke ma’had. Nasibku tak seberuntung anganku. (Singosari, Juli 2011)