Ada tiga ustadz. Namanya ustadz Wahid, ustadz Tsani dan ustadz Tsalis. Mereka sedang menghadiri pemakanan salah satu warga di kampung mereka. Pembacaan talqin dipimpin oleh ustadz Wahid. Semua pentakziyah khusyu’ ketika ustadz Wahid mulai membaca talqin. Selang beberapa menit, terdengar isak tangis dari ustadz Wahid. Tampaknya beliau tidak kuat menahan tangisnya. Mungkin terbayang makna yang terkandung dalam bacaan talqin itu. Sampai pada akhirnya, buku bacaan talqin itu diberikan kepada ustadz Tsani supaya dilanjutkan. “Tolong antum lanjutkan. Saya sudah tidak sanggup” ujarnya sambil terisak tangis yang kiat menjadi-jadi. Ketika bacaan talqin yang ada di buku itu diambil oleh ustadz Tsani, beliau lama memandangi buku itu, tiba-tiba beliau menangis tersedu-sedu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak tahan. Para pentakziyah terhanyut dalam syahdu. Mereka ikut menangis melihat kedua ustadz itu. Tiba-tiba ustadz Tsani menyerahkan buku tadi kepada ustadz Tsalis. “Ini antum lanjutkan, ana nggak mampu” Ucapnya sambil menyodorkan buku tersebut. Ustadz Tsalis diam sejenak memandangi buku itu. Sejenak kemudian, beliau melanjutkan bacaan talqin itu sampai selesai. Tidak seperti dua ustadz sebelumnya yang terlihat tidak kuat menahan tangis. Ustadz Tsalis ini malah tenang dan sedikit tersenyum. Bacaan talqin sukses terbacakan semua.

Setelah proses pemakaman selesai. Ketika ustadz itu terlihat ngobrol. Ustadz Wahid dan ustadz Tsani memulai obrolannya, “Maaf tadi saya benarabenar tidak kuat menahan tangis”. “Iya nggak apa-apa. Saya tahu kok kenapa sampeyan menangis”. Timbal ustadz Tsalis. “Sampeyan nangis bukan karena khusyu’ khan?..tapi karena satu lembar lanjutan bacaan talqin itu hilang. Dan sampeyan nggak hafal..” lanjut ustadz Tsalis. “Hehehe iya ustadz, saya nggak hafal. Makanya saya cari cara supaya tidak ketahuan sama warga. Ini khan rahasia sesama ustadz” ujar ustadz Wahid. “hahahaha..” ketiga ustadz itu serempak tertawa.