“Fitrah” atau dalam makna bahasa Indonesia adalah naluri. Setiap manusia mempunyai naluri. Naluri (fitrah) ini sudah ada sejak manusia berada dalam rahim (kandungan). Dalam fitrahnya, manusia memberikan pernyataan tentang kesaksiannya bahwa Allah adalah Tuhannya. Dalam pengertian lain bahwa manusia pada asal fitrahnya telah mengakui bahwa Islam adalah agamanya dan Allah adalah Tuhannya. Kesaksian ini diabadikan dalam firman-Nya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi…”. (QS. Al A’rof : 172)

Dari pemahaman ayat di atas, maka orang kafir itu bukan dikafirkan. Tapi dia pada hakikatnya menutup hati (fitrah) nya dari kesaksiannya akan ketuhanan Allah. Karena kata “kafir” berasal dari KAFARA, yang bermakna “menutup”. Artinya dia telah menutup fitrahnya, dimana fitrahnya itu mengakui akan ketuhanan Allah.

Kemudian, pengembangan fitrah dan pemberdayaannya sangat dipengaruhi lingkungan (alam). Jika berada di lingkungan baik, maka fitrahnya akan menjadi baik. Begitu juga sebaliknya. Lingkungan terkecil adalah orang tua. Maka benarlah apa yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW : “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasroni, atau Majusi”. (Alhadits).

Fitrah ini merupakan amanah Allah yang diberikan kepada manusia. fitrah ini harus diberdayakan dan dikembangkan. Jika seseorang tidak memberdayakan fitrahnya, maka orang itu berdosa karena tidak melaksanakan amanah. Diantara bentuk pemberdayaan fitrah manusia adalah pembelajaran Alquran.

Mempelajari Alquran ada dua macam. Ada pembelajaran secara dhohir. Yaitu dengan belajar cara membacanya dengan benar menurut kaedah tajwid. Yang kedua, pembelajaran secara batiniyah. Yaitu dengan tadabbur (merenungkan) makna dan kandungan isi Alquran. Seseorang tidak akan bisa merenungkan makna dan kandungan isi Alquran jika dia belum bisa membacanya dengan benar.  Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al ‘Alaq : “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka jika disebut nama Allah bergetarlah hatinya. Dan bila dibacakan ayat-ayatNya (Alquran) bertambahlah keimanannya (karenanya). Dan kepada Tuhanlah mereka berpasrah diri” (QS. Al Anfal : 2). Bisa dipahamilah dari ayat ini, bahwa keimanan itu bisa bertambah dengan membaca Alquran. Dan di sini bukan sekedar membaca saja. Melainkan dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, maka sampailah Alquran itu menjadi kehidupan bagi kita semua. Artinya, dengan merenungkan makna yang tersimpan dalam Alquran, kita berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

(Disarikan dari mau’idhoh hasanah KH. Hasan Abdullah  Sahal, Pimpinan PP. Darussalam Gontor ketika pembukaan diklat Tahsinul Quran oleh Tim PIQ, 23 Ramadlan 1432 H)