Madrasahku, Madrasah Ibtidaiyyah Al Karimiyyah mendapatkan prestasi dalam program Siswa Menabung se-Jawa Timur. Madrasahku masuk peringkat 10 terbaik (the best ten). Program ini kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan Bank Rakyat Indonesia. Maka madrasahku diundang ke Surabaya untuk menerima penghargaan. Dan alhamdulillah, aku dipercaya untuk mewakili ke Surabaya bersama kepala madrasah, Bapak Sami’uddin. Sebelum penentuan peringkat ini, pihak penyelenggara (Diknas, Depag dan BRI) mengunjungi madrasahku. Mereka meninjau langsung apakah benar-benar ada atau tidak program siswa menabung di madrasah. Walaupun madrasahku di desa, dan siswanya adalah anak-anak petani. hal ini tidak menyurutkan para siswa untuk menabung. Setiap hari, petugas tabungan di sekolahku, berkeliling masuk kelas untuk melayani siswa yang ingin menabung. Di sini kelebihannya. Biasanya orang yang ingin menabung harus mendatangi petugasnya di Bank atau kalau di madrasah/sekolah, harus dating ke loket khusus untuk menabung. Tapi di madrasahku, justru petugasnya yang mendatangi siswa. Tak lain karena untuk lebih menarik minat siswa agar gemar menabung. Nominal yang ditabung sebenarnya tidak besar. Rata-rata Rp.500,- tiap hari.

Di saat kunjungan tim penilai datang, saya dipanggil ke kantor. Ada satu siswi lagi yang dipanggil, namanya Siti Fadilah. Dia saingan saya di kelas dalam peraihan rangking. Kalau saya peringkat pertama, dia peringkat kedua. Juga sebaliknya. Sehingga oleh teman-teman, saya dijodoh-jodohin dengan dia. Hehe…Ketika saya dan Ila (panggilannya) ada di kantor, kita ditanya-tanya seputar kegiatan menabung. Ada satu hal yang lucu yang terjadi ketika proses wawancara.

Salah satu tim juri bertanya kepada saya dan Ila. “Apa kalian tahu kepanjangan dari BRI?” tanyanya sambil melihat ke arah saya dan Ila. “Tahu pak” ucapku mantap. Ilapun demikian. Dia menjawab tidak kalah mantapnya dengan saya. “Coba sebutkan apa kepanjangannya!” ujar petugas itu sambil menunjuk saya. Akupun menjawab “BRI itu kepanjangannya Bank Republik Indonesia”. “Hahahaha…” Serentak seluruh orang di kantor tertawa. Akupun bingung kenapa ya? Dalam hati, aku curiga, pasti ada yang salah. Benar dugaanku. Setelah tertawanya selesai, petugas yang menanyaiku menjelaskan. “Bukan Bank Republik Indonesia, tapi Bank Rakyat Indonesia” ucapnya sambil tersenyum. Wajahku langsung memerah menahan malu. Tapi buru-buru aku dihibur oleh kepala madrasah. “Maklum pak, dia nggak pernah ke Bank”. Tapi alhamdulillah, kejadian lucu dan memalukan ini tidak menghalangi madrasahku meraih peringkat the best ten. Bahkan berkat inilah saya dipilih untuk mewakili madrasah ke Surabaya. Dan momen inilah awal aku masuk hotel. Hehe…..

(Singosari, 2 Agustus 2011).