Oleh : KHM. Basori Alwi

Pada acara pembukaan Muktamar Jam’iyah Ahlit Thariqah An-Nahdhiyah di Ponpes al-Munawariyah, Kabupaten Malang pada hari Rabu, 10 Januari 2012 kemarin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengeluarkan beberapa keterangan di hadapan ratusan ulama. Di dalam sambutannya sebagai Ketua PBNU, Said Aqil Siradj menerangkan bahwa sebelum ajaran Hindu-Budha masuk ke bumi Nusantara, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal tauhid, hanya saja belum bernama Islam. Ajaran tauhid mereka pada saat itu bernama KAPITAYAN. Said Aqil Siradj mengatakan KAPITAYAN itu sudah mengenal satu tuhan.

Dan tuhan mereka yang satu ini dibantu oleh Sembilan (9) penjaga penjuru. Said menyebut beberapa nama penjaga itu diantaranya SANG HYANG BAYU dan SANG HYANG SIWA. Demikian ini adalah pra peradaban Hindu-Budha.

Adapun mengenai data yang disampaikan Said boleh jadi merupakan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Akan tetapi masalahnya apakah tauhid mereka sama dengan tauhid yang dibawa Rasulillah saw?. Apalagi Said membumbui dengan opininya yang harus diteliti kembali kebenarannya. Dia mengatakan ada kesamaan jumlah antara para penjaga KAPITAYAN dengan bintang sejumlah sembilan yang ada di logo NU. Dia mengatakan itu seraya mengindikasikan jumlah sembilan penjaga KAPITAYAN itu merupakan sebab atau alasan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari memilih jumlah bintang di logo NU yang juga berjumlah sembilan. Mungkin inilah pernyataan yang nyeleneh dan bisa jadi mengaburkan pemahaman ke-NU-an dan ke-Aswaja-an umat, apabila umat NU mengambil mentah lantas salah dalam menafsirkannya, khususnya bagi yang masih awam tentang ke-NU-annya Mbah Hasyim Asy’ari. Hal tersebut karena Said menyatakannya dalam kapasitasnya sebagai ketua PBNU dan menukil nama Mbah Hasyim Asy’ari di dalam pernyataan itu. Mungkin inilah yang perlu dilihat kembali, apakah benar dan bijakkah pernyataan Said itu sebagai ketua PBNU, atau mungkin memang ada motif dan tujuan dibalik penyampaian itu?

Disamping itu Said Agil mendefinisikan Aswaja dengan penegertian : Pengikut sunnah Nabi dan peduli Jama’ah (masyarakat seluruhnya). Ini penyimpangan dari definisi yang diberikan oleh para ulama’ sejak zaman sahabat  hingga zaman kita ini yang telah diijma’i, yaitu Ahlissunnah wal Jama’ah adalah pengikut sunnah Nabi dan sunnah Jama’ah (para sahabat Nabi) berdasarkan sabda Nabi s.a.w :

(‘Alaikum bi sunnati wa sunnati al-Khulafai ar-Rasyidin al-Mahdhiyyin)

Artinya : “Peganglah teguh sunnahku dan sunnah para penggantiku yang memberi petunjuk dan mendapat hidayat, yakni sahabat-sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali r.a.”

Pembaca cuplikan pidato Said Agil ini agar mengerti lebih mendalam siapa sesungguhnya Said Agil itu?,  silahkan membaca karangan KH. Muhammad Najih Maimun yaitu buku “Membuka kedok tokoh-tokoh liberal di dalam tubuh NU”. Salah satunya Said Agil adalah agen Syi’ah dari Iran di Indonesia. Dalam buku tersebut berkaitan dengan Kristen, Said Agil mengatakan : “ Tauhid Islam dan Kristen adalah sama”. Perlu diingatkan kembali bahwa logo NU yang bergambar bumi di kitari oleh 9 bintang itu adalah isyarat bahwa bintang lima yang di atas tulisan Nahdhatul Ulama’ adalah berarti NU mengikuti sunnah Nabi Muhammad s.a.w. dan jejak para sahabat empat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali r.a. Sedang bintang empat yang di bawah adalah Imam-Imam madzhab yang empat : Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali dimana NU mengikuti salah satu dari empat madzhab tersebut.