Saat dua sosok manusia disatukan dalam sebuah tali pernikahan. Masing-masing membawa ego dan watak yang pasti berbeda. Maka di sana akan sering terjadi benturan-benturan karena mempertahankan egonya masing-masing, walaupun toh ada yang harus mengalah. Andaikan pernikahan bukan suatu bentuk ibadah, pastilah tidak akan ada kelanggengan, kebersamaan. Orang akan lebih senang hidup sendiri, tak ada yang diatur dan mengatur, bebas berekspresi dan menentukan tindakannya.

Alhamdulillah, hukum Islam begitu indah. Pernikahan yang katanya mengasyikan, tidak hanya mendatangkan kesenangan dalam lika likunya, tapi juga pahala yang begitu besar. Sebab Islam menjadikan pernikahan sebagai ibadah. Jadi, walaupun dalam perjalanannya bersama (suami-istri) mengalami benturan-benturan, dan itu pasti lebih banyak dari pada kesenangannya, tetap enjoy saja. Karena dilandasi dengan niat ibadah. Bersenang dengan istri ibadah, bertengkar lalu mencari jalan keluarnya ibadah, masya Allah.

Tapi bagaimana jika benturan-benturan itu terjadi sebelum pernikahan yang sah? Apakah itu ibadah dan mendapat pahala? atau bahkan dosa?

Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang yang belum mengalami dan menjalaninya. Dia pasti menjawab. Jelas itu dosa. Alasannya? Belum resmi dan sah dalam pernikahan. Tapi bagaimana jika hal tersebut ditanyakan kepada mereka yang sedang mengalami dan menjalaninya? Apakah jawabannya sama? Wallahu a’lam.

Kadang dalam hati, jawaban itu benar dan diakui. Tapi ketika hati mengatakan dengan jawaban itu, kadang syetan menggiring kita kepada pernyataan sebaliknya. Sehingga kita berusaha mencari alasan-alasan untuk menguatkan apa yang sedang diperbuat karena enggan terlepas dari keadaan yang dijalani.