th

Dasarnya :

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة (متفق عليه)

“Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”.

 

Hukumnya :

Menurut pendapat yang paling shaheh di kalangan syafi’iyah, hukum shalat jama’ah adalah fardlu kifayah. Namun menurut sebagian lainnya, ada yang mengatakan sunah muakkat.

 

Orang yang lebih berhak menjadi imam ditentukan dengan adanya sifat Afqoh (ahli fiqih), Aqro’  (ahli quran), dan Auro’ (paling waro’).

  1. Afqoh dan Aqro’ lebih diutamakan dari pada Auro’ atau dari pada salah satunya (afqoh dan aqro’). Tapi disyaratkan baligh.
  2. Afqoh lebih diutamakan dari pada Aqro’.
  3. Jika sama dalam tiga hal di atas, maka yang didahulukan adalah orang yang bersih pakaiannya dan badannya, bagus postur tubuhnya, bagus suaranya.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi imam shalat jamaah :

  1. Meluruskan shaf. Shaf termasuk kesempurnaan shalat. Bahkan sayyidina Umar r.a. membawa tongkat dibuat memukul orang yang tidak lurus (melenceng) shafnya.

قال رسول الله ص.م : اعتدلوا في صفوفكم وتراصوا فإني أراكم من وراء ظهري

“Luruskanlah shaf-shaf kalian dan saling melekatlah kalian. Sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku”

  1. Mengeraskan suara bacaan fatihah, surat, takbir, dan salam agar terdengar makmum.
  2. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama shalatnya.
  3. Berdiam sejenak antara fatihah dan surat pada shalat jahriyah (shalat yang disunahkan bacaan fatihahnya dikeraskan) seukuran waktu yang cukup bagi makmum untuk membaca fatihah. Dan pada keadaan ini, hendaklah imam menyibukkan diri dengan membaca dzikir, qiroah atau doa. Seperti :

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة, إنك أنت الوهاب

  1. Disunahkan lebih memanjangkan bacaan surat pada rakaat pertama dari pada rakaat kedua.
  2. Disunahkan bacaan surat qisorul mufassol (surat-surat yang pendek) dari Ad Dhuha sampai An Naas, pada shalat maghrib.
  3. Disunahkan bacaan surat tiwalul mufassol (surat-surat yang panjang) dari Al Hujurat sampai An Naba’, pada shalat subuh dan dhuhur.
  4. Disunahkan bacaan surat awasithil mufassol (surat-surat yang sedang) dari An Naba’ sampai Ad Dhuha, pada shalat asar dan isya’.
  5. Disunahkan membaca surat sesuai urutan dalam Alquran.
  6. Menunggu orang yang masuk (untuk shalat) ketika ruku’ atau tasyahud akhir dengan syarat tidak terlalu lama menunggunya.
  7. Disyaratkan tidak memanjangkan lafadz ALLAH lebih dari tujuh alif (14 harokat), terutama pada takbirotul ihrom.
  8. Disunahkan mengangkat kedua tangan pada empat tempat :
    1. Ketika takbiratul ihram.
    2. Ketika hendak ruku’.
    3. Ketika hendak i’tidal.
    4. Ketika hendak berdiri dari tasyahud awal.
  9. Disunahkan berdiam sejenak seukuran enam kali bacaan subhanallah, pada enam tempat :
    1. Antara takbiratul ihram dan doa iftitah.
    2. Antara doa iftitah dan bacaan ta’awudz.
    3. Antara bacaan ta’awudz dan fatihah.
    4. Antara fatihah dan bacaan amin.
    5. Antara bacaan amin dan surat.
    6. Antara surat dan ruku’.

 

Penutup :

Disebutkan dalam kitab Ar Roudhoh dan Al Majmu’  bahwa barang siapa yang meninggalkan kesunahan-kesunahan dalam sholat dengan sengaja dan adanya istihza’ (mengejek agama), maka dia telah mempermainkan agama. Wallahu a’lam.

———————————————————————————————————————————————————————

Referensi :

  1. Al Fiqhu Al Islami Wa Adillatuhu, Dr. Wahbah Zuhaili, Daar Al Fikr, 1989.
  2. Al Qoul At Taammu Fi Ahkam Al Ma’mum Wa Al Imam, Asy Syaikh Al Allamah Abi Al Fath Muhammad bin Ahmad bin Al ‘Imad Al Afqohisi, Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah, 2004.
  3. Nudzjul Kalam fi Nushhil Imam, Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdus salam Al Manufi Asy Syafi’i, Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah, 2004.