indexRasulullah bersabda:

Min husni islaami al-Mar’i tarkuhu maa laa ya’niihi

“Termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat” (HR. Turmudzi)

Sesungguhnya seseorang hidup di dunia ini bercampur baur dengan manusia lainnya. Kesibukan mereka bermacam-macam. Adakalanya kesibukan tersebut penting dan bermanfaat. Adakalanya tidak penting dan tidak bermanfaat. Sebagai seorang Islam, nanti diakhirat akan diminta pertanggungjawabnya dari setiap perbuatan yang dilakukan, waktu yang dihabiskan, dan ucapan yang dikatakan. Maka jika seseorang menyibukkan dirinya dengan apa yang ada di sekitarnya dan masuk kepada hal-hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat, maka dia akan terlalaikan dari malakukan kewajibannya.

Hadits di atas merupakan rumus jitu dari Rasulullah SAW agar umatnya bisa mengontrol perbuatannya, baik ucapan dan tindakan. Bisa memilah mana yang penting dan bermanfaat dan mana yang tidak penting dan tidak manfaat.

Perbuatan yang bermanfaat adalah seluruh hal yang berkaitan dengan kepentingan hidup (makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal), dan hal yang terkait dengan keselamatan diri seseorang nanti di akhirat saat kembali ke hadapan Allah SWT. Maka selain dua hal tersebut adalah perkara yang tidak bermanfaat.

Sebagai contoh ada tiga orang, si A sebagai kepala keluarga, waktunya dihabiskan untuk bekerja mencari nafkah bagi keluarganya. Si B sebagai ibu rumah tangga sibuk di rumah merawat anak-anaknya dan menyiapkan makanan bagi keluarganya. Sedangkan si C, waktunya hanya dihabiskan untuk bermain, ngobrol, cangkruan yang tidak ada manfaatnya, alias pengangguran. Maka si A dan B merupakan contoh dari pengamalan hadits di atas.

Agar seluruh waktu dan kesempatan kita menjadi bermanfaat, maka solusi yang diberikan agama adalah dengan menyibukkan hati kita selalu ingat (dzikir) kepada Allah SWT. Berusaha untuk menghadirkan dalam jiwanya bahwa Allah selalu dekat pada diri kita. Sehingga kita akan selalu mengingat Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. (QS. Al-Baqoroh: 186)

 

Imam Hasan Al-Basri mengatakan bahwa “termasuk tanda seorang hamba dipalingkan dari Allah adalah Allah menjadikan hamba itu sibuk dengan urusan yang tidak bermanfaat”. Na’udzubillah min dzalik. (Elma)