niatDiriwayatkan dari sayyidina Umar bin Khottob r.a. Bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah (karena) kesenangan dunia atau (karena) perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya”.

Menurut imam Dr. Mustofa al-Bigha, hadits ini termasuk hadits yang sangat penting, karena bersandar padanya inti agama dan berputarnya hukum-hukum. Imam Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini adalah separuh agama. Sebab agama terdiri dari dhohir (amal) dan batin (niat). Imam Ahmad bin Hambal dan imam Syafi’i berpendapat bahwa hadits ini sepertiga ilmu. Karena amal seorang hamba terjadi dari tiga unsur; niat dalam hati, ucapan dengan lisan dan dan perbuatan dengan badannya. Inilah beberapa alasan kenapa niat itu sangat agung, penting dan berpengaruh terhadap perbuatan seseorang.

Niat dalam amal bagaikan ruh dalam jasad. Imam al-Baidlowi mengatakan :”Semua amal perbuatan tidak sah tanpa niat. Sebab niat saja tanpa berbuat (kebaikan) diberi pahala. Dan perbuatan tanpa niat sia-sia”. Begitu penting dan istimewanya niat, sehingga Rasulullah SAW bersabda :“niat seorang mukmin lebih baik daripada perbuatannya”.

Niat juga dapat membedakan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu. Coba perhatikan contoh berikut:

Ada dua orang yang sama-sama lapar. Ingin makan. Tapi hasil yang didapat keduanya berbeda. Kenapa? Sebab si A dia hanya makan karena dia lapar saja. Tapi si B selain makan karena lapar dia juga bertujuan (niat) makan itu supaya kuat untuk kerja cari nafkah, semangat ibadah, giat belajar, dll. Maka disini, si A hanya mendapatkan kenyang. Sedangkan si B selain kenyang juga mendapat pahala karena niat untuk ibadah.

Contoh lain, dua orang yang sama-sama tadarrus Alquran di musolla. Perbuatan keduanya merupakan amal soleh. Namun hasil yang didapatkan berbeda. Orang pertama niat tadarrus lillahi ta’ala, maka dia mendapat pahala. Orang kedua mendapatkan dosa. Kenapa? Sebab orang tersebut niat membaca Alquran supaya dipuji orang karena suaranya merdu dan membacanya lancar. Maka perhatikanlah niat kita agar apa yang kita lakukan menjadi ibadah. (Elma)