urlRasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipancangkan umurnya maka sambunglah silaturrahmi” (HR. Bukhori-Muslim)

Hadits ini sangat populer di kalangan umat Islam. Lebih-lebih pada momentum lebaran. Namun bila dicermati ada satu titik kelemahan. Selama ini yang sering disampaikan masalah silaturahmi adalah keutamaannya saja. Jarang sekali disampaikan dosa dan akibat dari memutus silaturahmi. Sehingga tidak ada pembanding. Sebab, seakan-akan bila tidak melakukan silaturahmi, tidak mendapatkan pahala dan tidak berdosa. Padahal memutus silaturahmi termasuk dosa besar. Menurut imam al-Hafidz Syamsuddin adz-Dzahabi pengarang kitab “al-Kabaair”. Beliau menempatkan dosa orang pemutus silaturrahmi di tingkat ke-7.

Allah ta’ala berfirman “Takutlah kalian kepada Allah yang kalian saling meminta (pertolongan) dan (Takutlah memutus) silaturahmi” (QS. An-Nisa’ : 1)

Rasulullah bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi”.

Dari ayat dan hadits di atas dapat dijelaskan bahwa berdosalah orang yang memutus silaturrami. Bahkan bisa digolongkan dalam dosa besar sebagaimana penjelasan di kitab ‘al-Kabaair”. Zaman sekarang bayak terjadi pada seseorang yang mempunyai family dengan status sosialnya yang tidak sebanding; kaya dan miskin, punya jabatan dan tidak. Maka godaan bagi si kaya, dia gengsi untuk menyambung silaturrahmi dengan familinya yang miskin. Begitu juga bagi yang punya jabatan enggan untuk bersilaturrahmi kepada familinya yang rakyat biasa (tidak punya jabatan). Sikap sebacam ini sangat tidak disukai Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

“Barang siapa yang punya family yang lemah dan dia tidak berbuat baik kepadanya, bahkan lebih suka berbuat baik kepada orang lain, maka Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat. Jika orang tersebut faqir maka cukuplah dengan mengunjunginya dan menanyakan keberadaannya”.

Diceritakan bahwa ada seorang kaya raya pergi haji. Ketika sampai di Makkah, dia menitipkan hartanya sekitar 1000 dinar kepada seorang laki-laki yang dikenal sebagai seorang yang amanah dan baik. Setelah orang kaya itu wukuf di Arafah, dia kembali ke orang yang dititipi. Ternyata orangnya sudah meninggal. Dia bertanya kepada keluarga orang tadi tentang harta yang dititipkan. Ternyata mereka tidak mengetahuinya.

Maka, orang kaya tersebut mendatangi ulama Makkah untuk meminta petunjuk tentang keberadaan orang yang dititipi dan juga keberadaan hartanya. Maka ulama Makkah memberi petunjuk “Tengah malam nanti kamu pergi ke sumur Zamzam dan lihatlah ke dalamnya. Lalu panggilah nama orang yang dititipi tadi. Kalau dia termasuk ahli surga dia akan menjawab panggilanmu”. Maka orang kaya itu melakukan petunjuk ulama. Namun tidak mendapatkan hasil. Artinya tidak ada jawaban saat dipanggil. Lalu dia kembali ke ulama dan memberitahukan hasilnya. Maka ulama tadi berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Saya khawatir orang itu termasuk ahli neraka”.

Kemudian ulama tersebut menyuruh orang kaya itu pergi ke negeri Yaman untuk mencari sumur yang dinamakan “Barhut”. Konon sumur ini di atas mulut neraka Jahanam. “Di tengah malam, kamu pergi ke sumur Barhut dan panggil nama orang yang kamu titipi. Jika dia termasuk ahli neraka maka dia akan menjawab panggilanmu”. Maka orang tersebut melakukan perintah tadi. Ternyata ketika dia memanggil, ada suara menjawab. Lalu orang kaya tadi bertanya “dimana hartaku?”. Suara itu menjawab “Aku memendamnya di suatu tempat di rumahku. Pergilah dan galilah, kamu akan mendapatkan hartamu. Orang kaya tadi berkata “Apa yang menyebabkan kamu ada di sini sedangkan aku mengira engkau orang baik”. Suara tadi menjawab “Aku punya saudara perempuan yang faqir. Aku tidak peduli padanya dan aku memutus silaturrahmi dengannya, maka Allah menyiksaku dengan menempatkanku di sini”.

Dari cerita ini bisa diketahui begitu berat dan besarnya dosa orang yang memutus silaturrami. Rasulullah SAW memberikan tips dan trik silaturrahmi. Beliau SAW bersabda “Sambunglah silaturrahmi walaupun dengan sebatas salam”. Di sini Kita diberi kelonggaran dalam cara bersilaturrahmi. Tidak harus mengunjungi ke rumah family atau kerabat–walaupun cara ini lebih utama-, cukuplah kita dengan telepon, sms, atau titip salam kepada mereka. Ini sudah termasuk silaturrami. Namun tetap, bilamana ada kelonggaran waktu kita mengunjungi rumah mereka. (elma)